Jumat, 13 Maret 2015

MENJERNIKAN HATI

Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pengatur, menciptakan
manusia dengan memberinya dua macam kekuatan. Yaitu kekuatan
jasmani dan kekuatan rohani. Menusia terdiri dari dua macam badan,
badan jasmani atau wadaq dan badan rohani atau roh atau jiwa. Dan
masing-masing badan itu oleh Allah SWT, diberikan kekuatan atau
kemampuan yang berbeda-beda sifat dan dayanya. Hanya manusia yang
diberi dua macam kekuatan seperti itu. Makhluq-makhluq selain manusia
baik itu golongan Malaikat ataupun bangsa Jin dan Makhluq jenis halus
lainnya lebih-lebih makhluq jenis kasar, tidak diberi dua macam kekuatan
seperti yang diberikan kepada manusia. Bangsa Jin mungkin memiliki dua
kekuatan seperti itu akan tetapi terbatas, tidak seluas yang dimiliki oleh
manusia. Buktinya yaitu bahwa Nabi Sulaiman pernah merajai manusia
dan sekaligus bangsa Jin dan makhluq-makhluq lain, sedangkan belum
pernah kita mendengar ada bangsa Jin yang membawahi manusia.
Malaikat dalam beberapa hal menempati tingkatan yang lebih tinggi
daripada manusia akan tetapi terbatas. Terbatas mengerjakan tugas-tugas
tertentu. Ada yang membaca tasbih saja, ada yang bertakbir saja, ada yang
hanya bertahmid saja, ada yang t
erus-menerus membaca shalawat kepada
Nabi SAW saja, ada yang terus-menerus ruku’, ada yang tiada henti-henti
sujud dan sebagainya. Bahkan banyak tugas-tugas yang dijalankan oleh
para Malaikat justru diperuntukkan bagi umat manusia. Bahkan lebih lagi
daripada itu. Segala apa yang dilangit dan dibumi ini oleh Allah dibuat
tunduk kepada manusia, diperuntukan bagi umat manusia supaya sebaikbaiknya
dimanfaatkan
bagi
kepentingan
hidupnya
di
dunia
dan
di
akhirat.
Firman-NYA :
“Tidak kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-NYA lahir dan batin” (31 Luqman : 20)
Demikian kasih sayang Allah SWT kepada amnusia, hamba-NYA.
Ini perlu kita renungkan sebagai pendahuluan pembahasan masalah
menjernihkan hati dan agar supaya kita menyadari tempat kedudukan kita
sebagai manusia di antara mahkluq-makhluq lain ciptaan Tuhan, sehingga
kita dapat terus menerus senantiasa meningkatkan syukur terima kasih kita
kepada-NYA.
Kedua kekuatan, kekuatan lahir dan kekuatan batin yang dimiliki
oleh manusia itu tadi tidak lain agar supaya dipergunakan untuk
mendatangkan sebesar-besarnya manfaat guna memperoleh dan membina
hidup selamat sejahtera dan bahagia material da spiritual, lahir dan batin di
dunia dan di akhiratnya kelak. Dan sebagai insan sosial, kekuatan lahir dan
kekuatan batin manusiamerupakan perangkat pemberian Tuhan baginya
untuk mengemban tugas sebagai “khalifah” atau “wakil” Allah di bumi.
Tugas mulia yang dipercayakan Allah SWT, kepada manusia untuk
mengatur kehidupan di dunia menurut konsepsi yang digariskan Allah
SWT. Sebagaimana firman-NYA di dalam Al Qur’an :
          “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat :“Sesungguhnya Aku berhak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.(2 Al-Baqarah : 30)
      Kekuatan lahiriyah, seperti kita maklumi adalah daya kemampuan
yang kelihatan mata lahir atau yang dapat diperhitungkan oleh akal fikiran
atau rasio. Akal fikiran atau rasio itu sendiripun tergolong kekuatan lahir.
Betapapun besarnya kemampuan lahiriyah manusia, akan tetapi masih
terbatas sekali apa bila dibandingkan dengan kemampuian batin atau
kemampuan jiwa manusia. Kekuatan lahir hanya bisa berhubungan dengan
alam lahir alam nyata, sedangkan kekuatan jiwa manusia dapat menembus
alam ghaib, dapat menjelajahi metafisik, bahkan dapat mengadakan
komunikaasi dengan alam luar manusia, dengan alam jin dan alam
amalaikat bahakan dapat beraudiensi dengan Tuhan Pencipta seluruh alam.
Pusat segala kegiatan manusia baik kegiatan jasmani maupun
kegiatan rohani terletak di dalam hatinya. Hati merupakan “Pusat
Komando” dari segala macam gerak dan laku manusia. Bahakn di samping
sebagai pusat komando, sekaligus merupakan “motor Penggerak” yang
menggerakkan segala perilaku dan perbuatan manusia. Perbuatan yang
baik maupun perbuatan yang jahat, perbuatan menguntungkan ataupun
perbuatan yang merugikan semuanya itu di komandon dan digerakkan oleh
hati.
Di dalam hati manusia sama-sama bermarkas dua macam “dewan”
yang berlainan pengaruh dan arahnya satu sama lain. Bahkan saling
bertolak belakang dan saling berlawanan. Yang satu “Dewan Perancang
Kebaikan” dan satunya lagi “Dewan Perancang Kejahatan”. Siapa diantara
dua dewan itu yang dominan (berkuasa) di dalam hati, dialah yang
memegang komando segala gerak dan perbuatan atau tindakan manusia.
Adapun faktor fikiran, sekalipun dipenuhi dengan berbagai macam
perbendaharaan ilmu pengetahuan dan hikmah kebijaksanaan, namun
fungsinya hanya sebagai “Dewan Pertimbangan”, dan tidak memegang
peranan yang menentukan.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat atau mendengar,
atau mungkin pernah bahkan sering mengalammi sendiri bahwa akal
fikiran dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dapat
membedakan antara yang benar dan yang salah, dapat mengerti itu haram
ini halal, mengerti itu boleh dikerjakan dan ini tidak, dan sebagainya. Akan
tetapi di dalam prakteknya justru sebaliknya. Yang baik ditinggalkan, yang
buruk dikerjakan. Yang menguntungkan malah dihindari, yang merugikan
justru dimasuki. Yang haram dikejar-kejar, yang halal tidak dihiraukan.
Yang benar tidak diikuti, yang batal dipergauli.
Hal tersebut disebabkan oleh karena yang menguasai hati pada
waktu itu adalah “Dewan Perancang Kejahatan”. Ilmu pengetahuan yang
berada di dalam otak fikiran manusia tidak mampu mengendalikannya,
tidak mampu mengerahkan sesuatu perbuatan yang sesuai dengan ilmu dan
pengertian yang dimilikinya. Jika seseorang pencuri ditanya, apakah
perbuatan mencuri itu baik? Pasti menjawab tidak baik. Siapapun jika
ditanya apakah oerbuatan menipu, korupsi, merugikan atau menyakiti
orang lain itu diperbolehkan?. Semua akan menjawab tidak! Bahkan
semua orang mengerti bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan tercela
dan sangat terkecam. Tetapi mengapa toh yang dilakukan oleh sebagian
orang bahkan oleh banyak orang? Tidak lain didorang oleh keinginan
nuruti nafsu yang bersarang di dalam hati yang sudah dikuasai oleh
“Dewan Perancang Kejahatan” tersebut.
Jelasnya, manusia akan terjerumus kepada kejahatan kehancuran
apabila hatinya penuh dengan kotoran-kotoran nafsu yang berkuasa dan
memerintah sebagai “Dewan Perancang Kejahatan”. Dan manusia
dikatakan baik, baik budinya, baik akhlaqnya, baik perangai dan
pekertinya, baik perbuatannya, apabila hatinya dipimpin oleh “Dewan
Perancang Kebaikan”, dan bersih dari kotorankotoran nafsu. Oleh karena
itu maka manusia harus selalu dibersihkan dari kotoran-kotoran dan dari
hama penyakitnya hati dengan menempatkan “Dewan Perancang
Kebaikan” sebagai pemimpin yang bijaksana di dalam dirinya.
Betapa tepat dan bijaksananya Rasuululloh SAW telah memberikan
peringatan kepada kita dengan sabda-NYA :
 َﺪ َﺴَﻓ ْتَﺪ َﺴَﻓ اَذِإ َو ، ُﺪ َﺴَْﳉا َﺢُﻠ َﺻ ْﺖَﺤُﻠ َﺻ اَذِإ ًﺔَﻐ ْﻀُﻤَﻟ ِﺪ َﺴَْﳉا ِﰱ ﱠنِإ
 ُﺐْﻠ َﻘْﻟا َﻰ ِﻫَو َﻻَا ،ُﻪﱡﻠ ُﻛ ُﺪ َﺴَْﳉا . َﻋ ٌﻢِﻠ ْﺴُﻣ َو ﱡىِرﺎ َﺨُﺒْﻟا ُﻩاَوَر ٍْﲑ ِﺸَﺑ ِﻦْﺑ ِنﺎ َﻤْﻌﱡـﻨﻟا ِﻦ
“Sesungguhnya di dalm jasad manusia itu ada segumpal daging,
apabila segumpal daging itu baik, menjadi baik pulalah seluruh jasad,
daan apabila rusak atau kotor, menjadi rusak pulalah seluruh jasad.
Ketahuilah, yaitu hati” (Hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari
Nu’man bin Rasyid)
Atas dasar hadits tersebut, maka kemudian para Ulama Shufi
mengatakan antara lain sebagai berikut :
 ٌﺔَﺒ ِﺟاَو ِﻞِﺋآَذﱠﺮﻟا ِﻦَﻋ ِﺲْﻔﱠـﻨﻟا ُﺔَﻴِﻛْﺰَـﺗ .) ِﻛـــــــْﺗَﻷا ُﺔَﻳﺎ َﻔــــــــءﺂَﻴ ِﻘ(
“Membersihkan jiwa (hati) dari kotoran-kotoran (nafsu) adalah
wajib” (Kitab Kifayatul Atqiya)
Wajib disini dalam arti harus diusahakan oleh setiap orang dalam
rangka upaya mencapai hidup selamat sejahtera dan bahagia lahir batin
dunia dan akhirat. “Tazkiyattuunafsi” atau membersihkan hati maksudnya
membebaskan hati dari pengaruh-pengaruh nafsu yang senantiasa berusaha
dan bertipudaya untuk menguasai hati manusia. Di dalam kitab suci Al
Qur’an diterangkan pernyataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam tentang tekad
Beliau yang senantiasa waspada terhadap tipudaya nafsu sebagai berikut :
“Dan tidaklah aku membiarkan diriku (dikuasai nafsu), karena
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu
yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. (12 Yusuf : 53)
Membersihkan hati, istilah yang populer sekarang disebut operasi
mental.
“Operasi Me3ntal” yang dialami oleh Rasuululloh SAW ketika akan
menjalani Isra’ Mi’raj merupakan tuntunan yang nyata yang harus diikuti
oleh para umat. Bahkan oleh setiap insan yang hidup di dunia ini. Berkat
aadanya operasi tersebut, dimana kotoran-kotoran yang terdapat di dalam
hati Rasuululloh SAW dikeluarkan dan kemudian dimasukkan iman,
islam, ihsan, ikhsan, amanah dan kejujuran, maka segala gangguan dan
godaan yang dialami dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj, semua dapat
diatasi dengan sempurna dan sukses menghadap kehadirat Allah SWT
untuk menerima tugas-tugas yang harus dilaksanakan para umat, antara
lain sholat lima waktu dalam sehari-semalam.
Bermacam-macam cara telah banyak ditempuh orang / masyarakat
dalam melaksanakan operasi mental. Melalui pengajaran dan pendidikan,
lewat sistem dakwah dan penerangan-penerangan agama, menggunakan
media massa, surat kabar, majalah, radio, TV dan buku-buku, melalui
perkumpulan atau organisasi-organisasi sosial dan bermacam-macam
bentuk pergaulan hidup lain-lain. Bahkan ada yang menempuhnya dengan
riyadloh-riyadloh badaniyah dan latihan-latihan kejiwaan. Masing-masing
dengan metode dan sistematika yang berbeda-beda.
Secara umum, cara operasi mental seperti tersebut di atas dalam garis
besarnya dititik beratkan pada prinsip penanaman pengertian dan ilmu
pengetahuan sehingga diharapkan bisa tumbuh suatu kesadaran. Akan
tetapi kenyataan di dalam praktek tidak semudah itu. Pengertian dan ilmu
pengetahuan masih belum memberi jaminan akan tercapainya kondisi hati
yang bersih dan jernih bebas dari pengaruh-pengaruh nafsu yang menjadi
sarang yang subur bagi bercokolnya “Dewan Perancang Kejahatan” seperti
tersebut di atas.
Menigngat makin hebatnya pengaruh-pengaruh dari berbagai jurusan
yang merangsang hati manusia, yakni pengaruh negatif yang menyuburkan
tumbuhnya “Dewan Perancang Kejahatan”, maka operasi mental atau
membersihkan dan menjernihkan hati harus secara terus-menerus
diusahakan oleh setiap orang. Disamping denga cara-cara operasi mental
seperti di atas dan yang sudah banyak dijalankan oleh masyarakat selama
ini masih ada satu cara yang belum banyak dilakukan orang, yaitu
pendayagunaan kekuatan atau potensi batiniyah dalam bentuk doa
permohonan kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha
Pengatur, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Doa memohon
HIDAYAH, memohon petunjuk dan pertolongan-NYA.
Pendayagunaan potensi batiniyah dalam bentuk doa permohonan
kepada Allah SWT. Baik yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri atau
secara berkelompok (berjama’ah bersama-sama), jika dibandingkan
dengan pendayagunaan potensi lahiriyah dalam bentuk bekerja, berkarya
dan bentuk-bentuk aktifitas atau kegiatan lahiriyah lainnya adalah masih
sangat tidak seimbang. Masih banyak peluang kesempatan dan sisa
kekuatan yang belum dimanfaatkan untuk berdo’a memohon kepada Allah
SWT. Padahal seperti disebutkan di muka, kedua kekuatan, kekuatan lahir
dan kekuatan batin yang sama-sama anugerah pemberian Tuhan itu harus
dimanfaatkan secara harmonis dan keseimbangan dengan kebutuhan hidup
serta saling isi mengisi. Lebih-lebih jika diingat bahwa HIDAYAH Allah
SWT adalah mutlak dibutuhkan oleh setiap insan. Tanpa HIDAYAH dan
PETUNJUK Allah, manusia pasti sesat dan terjerumus kepada kehancuran
dan kesengsaraan.
Bertambahnya ilmiah atau ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan
agama amupun ilmu pengetahuan umum lainnya apabila tidak disertai
memperoleh HIDAYAH dari Allah SWT, maka ilmu-ilmu itu tidak akan
mampu meletakkan benih yang menumbuhkan kejernihan hati,
ketentraman jiwa dan kesehatan mental. Bahkan boleh jadi justru ilmuilmu
yang
tidak
disertai
HIDAYAH
Allah
itu
malah
penyubur
bercokolnya
“IMPEREALI

NAFSU” sebagai “Dewan Perancang Kejahatan” di dalam
hati manusia. Sehingga kemudian timbul rasa kebanggaan, rasa diri
berilmu, berkemampuan, berkuasa, rasa diri lebih dari orang lain,
selanjutnya lalu muncul bendera “ke-aku-an”, egoisme atau ANANIYAH.
Ilmu yang seharusnya menjadi alat penyaring kemurnian dan kemulusan
hati yang bersih, dalam prakteknya disalahgunakan menjadi polusi jiwa
(pengotoran jiwa) yang lebih keruh tetapi lebih halus sehingga yang
bersangkutan tidak merasa.
Dalam hubunganm antara ilmu dan hidayah, Rasuululloh SAW telah
memperingatkan kita dengan sabdanya :
 ﺎ ًﻤْﻠِﻋ َدا َدْزا ِﻦَﻣا ًﺪْﻌُـﺑ ﱠﻻِإ ِﷲا َﻦ ِﻣ ْدَدْﺰَـﻳ َْﱂ ى ًﺪُﻫ ْدَدْﺰَـﻳ َْﱂَو
 ٍﺮِﺑﺎ َﺟ ْﻦَﻋ ﱡﻰِﻤَﻠْـﻳ ﱠﺪﻟاَو ٍرْﻮُﺼْﻨ َﻣ ْﻮُـﺑَا ُﻩاَوَر
“Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya,
maka tidak menjadi bertambah (dekatnya) melainkan semakin jauh dari
Allah”. (Riwayat Abu Mansur dan Dailami dari Jabir)
Orang yang jauh dari Allah tidak akan mendapat hidayah. Barang
siapa tidak mendapat hidayah Allah pasti sesat jalan dan akhirnya sengsara
dan mengalami kehancuran. Maka oleh karena itu, disamping ilmu
pengetahuan harus kita pelajari, harus kita tuntut, ilmu pengetahuan apa
saja terutama yang ada hubungannya dengan soal-soal membersihkan hati,
yang berkaitan dengan masalah operasi mental, untuk memperoleh
ketenangan batin dan ketentraman jiwa, tidak boleh diabaikan yaitu usaha
memperoleh HIDAYAH Allah SWT.
Apakah HIDAYAH dari Allah dapat diperoleh atau diusahakan
dengan upaya manusia? Jawabnya tegas. Dapat!. Firman Allah dalam Al
Quran surat no.29 Al-Ankabut ayat 69 berbunyi :
                       .٢٩
تﻮﺒﻜﻨﻌﻟا:٦٩
Artinya kurang lebih :
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridloan)KAMI,
sungguh-sungguh akan KAMI tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
KAMI”
Berjihad di sini supaya bersungguh-sungguh atau berusaha dengan
sungguh-sungguh. Berusaha mencari keridloan-NYA, berusaha menujuk
kepada-NYA untuk memohon Hidayah-NYA.
Di dalam Wahidiyah, bersungguh-sungguh memohon kepada Allah
SWT itu disebut “MUJAHADAH”. Tentang kebutuhan antara HIDAYAH
dan MUJAHADAH, Imam Ghozali mengatakan di dalam Kitab Ihya-nya :
ﺎ َﻫاَﻮ ِﺳ ﺎ َﻬَـﻟ َحﺎــَﺘ ْﻔ ِﻣ َﻻ ِﺔَﻳا َﺪ ِﻬـْﻟا ُﺢَﺘ ْﻔ ِﻣ ُةَﺪ َﻫﺎ َﺠُﻤْﻟا  . ءﺎﻴﺣالّوﻻا:٣٩
Artinya kurang lebih :
“Mujahadah adalah kuncinya hidayah, tidak ada kunci untuk
memperoleh hidayah selain Mujahadah”.
Ada banyak sekali macam dan jenisnya doa yang dilakukan orang,
dengan cara dan bahasa yang berbeda-beda menurut bahasa negara atau
bahasa daerah masing-masing, dan mengikuti tuntunan agama atau
kepercayaan yang dianut sendiri-sendiri Rasuululloh SAW bersabda :
 ِﻣ ْﺆ ُﻤْﻟا ُح َﻼ ِﺳ ُءﺂـــــــ َﻋ ﱡﺪﻟَا ِﻦ ... َﺚْﻳ ِﺪَْﳊا . ﱟﻰِﻠَﻋ ْﻦَﻋ ُﻢِﻛﺎَْﳊاَو ﻰَﻠ ْﻌَـﻳ ْﻮُـﺑَا ُﻩاَوَر
“Doa adalah senjatanya orang mukmin”.
Ibarat “senjata”, maka daya keampuhan dan kegunaannya doa juga
berbeda-beda. Antara lain berkaitan dengan pribadi dan kepribadian
Pencipta Doa, tujuan dan kepentingan apa doa itu dicipta, situasi dan
kondisi pada waktu doa itu dicipta, susunan redaksi doa, kaifiyah (cara
pengamalan) dan adab-adab ketika berdoa dan kondisi batiniyah dan
kejiwaan orang yang berdoa. Misalnya hudlurnya hati, kekhusyyuannya,
kemantapan hatinya dan sebagainya.
Di dalam Islam, Rasuululloh SAW memberikan tuntunan bermacammacam

doa. Hampir setiap gerakan ada doanya. Ada doa ketika mau
makan, selesai makan, ketika berpakaian, doa di waktu pagi, di waktu sore
hari, saat akan idur, ketika bangun tidur, waktu keluar rumah, ketika
masuk rumah dan sebagainya. Disamping doa pada setiap melakukan
gerakan seperti itu, masih banyak lagi doa-doa untuk sesuatu hajat dan
kepentingan. Baik dari tuntunan Rasuululloh SAW maupun yang dicipta
oleh para Sahabat dan para Ulama. Namun sayangnya hanya sedikit sekali
dilakukan oleh umat Islam sendiri.
Para Ulama, terutama Ulama Shufi berpendapat bahwa doa yang
paling dekat diijabahi oleh Allah SWT istiilah Bahasa Jawa paling mandi
adalah Shalawat. Dan pendapat ini sangat cocok dengan kenyataan. Lebihlebih

di zaman akhir ini, Insyaallah tentang Shalawat kepada Kanjeng
Nabi Besar Muhammad SAW. Ini akan dibahas dalam bab tersendiri di
belakang. Secara umum mengetahui faedah dan manfaat doa Shalawat
kepada Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW bagi si pembaca Shalawat
adalah seperti dikatakan oleh Syekh Hasan Al-Adawi di dalam Kitab
“Dalailul Khoiror” yang kemudian dibenarkan dan didukung oleh para
Ulama Shufi lainnya yaitu sebagai berikut :
 ﱢ ِﱮﱠﻨﻟا ﻰَﻠَﻋ َةَﻼﱠﺼﻟا ﱠنِإﷺ : َﱃِإ ٍﺦْﻴ َﺷ ِْﲑَﻏ ْﻦ ِﻣ ُﻞ ِﺻْﻮُـﺗ َو َبْﻮُﻠ ُﻘْﻟا ُرﱢﻮَـﻨُـﺗ
 ِبْﻮُـﻴُﻐْﻟا ِم ﱠﻼَﻋ  .ﻦﻳراﺪﻟا ةدﺎـــﻌﺳ:٣٦
“Sesungguhnya mambaca Shalawat kepada Nabi SAW itu bisa
menerangi hati dan mewushulkan kepada Tuhan Dzat Yang Maha
Mengetahui perkara gaib”. (Sa’adatud-Daroini : 36)
“Menerangi hati”, hati menjadi padang, jernih dan tentram
“mewhusulkan” mengentarkan dan menyampaikan kepada tingkat kondisi
batiniyah yang sadar kepada Allah SWT.
Ada banyak sekali macamnya doa Shalawat. Berpuluh, beratus,
beribu-ribu, bahkan berpuluh ribu macamnya. Masingnmasing shalawat
dikaruniai faedah dan  manfaat yang berbeda-beda, manfaat duniawi dan
manfaat ukhrowi, manfaat lahiriyah dan manfaat batiniyah, manfaat yang
berhubungan dengan hal-hal yang bersifat moral dan spiritual.
Bersangkutan dengan kebutuhan untuk kejernihan hati, ketenangan batin
dan ketentraman jiwa, sudah sewajarnya kita memilih Shalawat yang
dikaruniai manfaat dan faedah yang kita butuhkan terebut.
Alhamdulillah dengan fadhol Allah SWT pada kira-kira awal tahun :
1963M, Allah SWT melipahkan karunia taufiq dan hidayah-NYA dengan
tersusunnya “SHALAWAT WAHIDIYAH” dari Pondok Pesantren
Kedunglo Desa Bandar Lor Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Propinsi
Jawa Timur, yang kemudian oleh Mualifnya yakni Al Mukarrom Shohibul
Fadiilah, Asy-Syekh Romo KH. Abdoel Madjid Ma’roef Pengasuh Pondok
Pesantren tersebut diijazahkan (diberikan ijin pengamalan) secara umum
dengan ijazah mutlak kepada masyarakat luas tidak pandang dari
golongan, aliran, bangsa dan negara manapun, serta tidak membatasi
tingkatan dan umur berapa saja. Pokoknya tidak pandang bulu, siapa saja
dan tanpa ada syarat-syarat.
Sekali lagi Alhamdulillah mengamalkan SHALAWAT
WAHIDIYAH dikaruniai faedah berupa kejernihan hati, ketenangan batin
dan ketentaman jiwa sehingga lebih banyak ingat dan sadar kepada Allah
wa Rasuulihi SAW. Disamping kejernihan hati, juga dikaruniai manfaat
lainnya berupa antara lain soal kesehatan, soal kerukunan dalam rumah
tangga, soal kelancaran usha dan pekerjaan, soal kecerdasan dan perbaikan
akhlaq di kalangan anak-anak dan remaja, dan masih banyak lagi manfaat
yang dialami oleh mereka yang sudah mengamalkan Shalawat Wahidiyah
tersebut.
Semoga kita termasuk orang-orang yang dikaruniai hati yang jernih,
batin yang tenang dan kukuh, jiwa yang tentram dan stabil sehingga
berhasil wushul, sadar ma’rifat kepada Allah wa Rasuulihi SAW. Suatu
kondisi batiniyah yang menjadi keselamatan, kesejahteraan dan
kebahagiaan hidup lahir dan batin dunia sampai akhirat yang mendapat
ridlo Allah SWT. Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar